Nyanyian
Sendu
Karya Imajinasi
-Ulfa Tapani
Suasana masih beku dari pertama kali mereka bertatap wajah. Namun
tak sampai sedetik, pandangan langsung melarikan diri, memilih untuk menatap
kosong ke depan. Duduk berdampingan tidak mereka jadikan alasan untuk saling
bertatap. Satu menunduk, satu termangu, masing-masing menganalisa, tidak dapat
menerjemahkan perasaan yang tengah bergemuruh di antara mereka berdua. Ya,
setelah sekian tahun tak berjumpa, tak saling berbagi kabar dan cerita, mereka
kembali bertemu dengan romansa yang berbeda.
“Apa kabar?”
pertanyaan itu memecah keheningan.
“Kabar baik.
Bagaimana denganmu?”
“Aku juga baik..”
Hanya tercipta
sepotong percakapan, sisanya kembali sibuk dengan kecanggungan masing-masing. Entah
untuk alasan apa mereka menciptakan sebuah kebekuan dalam pertemuan, namun ini
hanya segumpal perasaan asing yang tak pernah mereka ciptakan sebelumnya. Yang
pria mulai tersinggung karena sebuah fakta. Ia seorang pria, masa’ iya harus
jadi pendiam macam seorang wanita? Ia harus segera mencairkan suasana.
“Lama tak bertemu,
sibuk apa sekarang?” Sang pria menoleh kepada gadis yang konsisten menunduk.
“Aku sekarang
hanya menghabiskan waktu mengajar santri di pesantren, membagi ilmuku yang tak
seberapa..”
Sang pria menatap
gadis berjilbab biru itu, setidaknya ia bisa mencuri pandang selama gadis itu
tak mengangkat kepalanya.
“Mmm…”
“Kamu sendiri
sibuk apa sekarang, Ndra?” akhirnya sang gadis mau merangkai percakapan, bahkan
dengan menyebut nama panggilan sang pria.
“Aku sekarang
bekerja di kantor kelurahan Fa..” sang pria pun membalas menyebut nama
panggilan sang gadis.
Bukan.
Ini bukan tentang
sang pria dan sang gadis. Ini tentang Rendra dan Syifa.
***
“Katanya, ada yang
ingin kamu bicarakan Fa, apa itu?”
“Menurutmu apa
Ndra?”
“Menurutku? Apa
kamu pikir
aku tahu jawabannya?”
“Aku pikir
begitu..”
“Aku tidak tahu
Fa….”
‘Selama ini kau
tidak tahu? Atau pura-pura tidak tahu?”
Sedikit terkejut,
Rendra menoleh ke arah Syifa yang kini mulai berani menatapnya. Entah
bagaimana, tapi kejanggalan itu mulai muncul. Gadis pendiam yang selama ini ia
kenal tiba-tiba saja menatap dengan penuh antusias. Ia seperti memiliki berjuta
peluru yang hendak ia tembakkan satu per satu. Dan peluru pertama telah
ia tembakkan.
“Aku..aku.. tidak
tahu. Apa yang sedang kamu bicarakan Fa?”
“Apa yang sedang
aku bicarakan? Ah.. kamu benar, apa yang sedang aku bicarkan? Aku tidak tahu,,”
“Fa, ada apa
sebenarnya?”
“Ada apa? Aku
tidak tahu..”
“Jangan pura-pura
tidak tahu Fa..”
“Harusnya kalimat
itu yang aku lontarkan padamu” gadis itu tersenyum sinis.
“Aku tidak bisa
mengerti kalau kamu tidak mau menjelaskan Fa, tolong jangan beri aku teka-teki
yang sulit”
“Setidaknya kamu
ingat, pertama kali kita bertemu dan tiba-tiba saja temanku yang juga temanmu
mengatakan sesuatu. Atau kamu tidak ingat? Atau sama sekali tidak mau ingat?”
“Fa..”
“Apa selama ini kamu tahu, atau sama sekali tidak tahu?
Kalau aku menghabiskan banyak waktu memikirkanmu, menghabiskan seluruh waktu
untuk bermimpi tentangmu, tentang angan yang tak pernah bisa aku capai. Apa
kamu tidak tahu? Atau tidak mau tahu? Atau bahkan tidak pernah memikirkan hal
itu sama sekali?”
“Dulu kamu sudah
menjadi milik seseorang Fa, kenapa harus aku paksakan perasaan yang dulu??”
“Tapi aku telah
mengakhirinya. Aku sadari semuanya. Tapi mengapa setelah kamu tahu, kamu
basa-basi membahas tentang itu pun tidak, memberi tahu bagaimana perasaanmu pun
tidak”
“Kamu tidak pernah
menanyakan hal itu Fa..”
‘Harus aku
tanyakan?!!!!”
Matanya mulai
memerah. Rendra bisa melihat mata sang gadis yang berkaca-kaca penuh amarah.
Gadis itu tidak tahu tentang hal yang diketahui oleh Rendra. Sama sekali tidak
tahu. Rendra menghela nafas. Mencoba mengendalikan diri, berusaha menjelaskan yang
terbaik.
“Aku tidak ingin
terlalu terburu-buru soal perasaan Fa.. kamu tahu, perasaan itu seperti cuaca,
mudah sekali berubah. Hanya waktu yang bisa menjawab apakah perasaan itu
semakin jelas terlihat atau malah semakin hambar.”
“Waktu? Usiamu
sekarang 28 kau masih berbicara tentang waktu? Hendak sampai kapan kamu
menunggu hah?”
“Apa yang
sebenarnya kamu inginkan Fa? APA???????” Rendra setengah berteriak.
Gadis itu
terhenyak. Ia segera menghela nafas, mengusap wajah. Rendra bisa mendengarkan
desahan istigfar yang diucapkannya. Emosi memang tidak bisa ditebak kapan akan
tersulut dan kemudian berkobar-kobar. Jelasnya, perempuan sulit mengendalikan
diri ketika emosinya tidak stabil. Perempuan bisa mengucapkan apa saja. Bahkan
bisa melakukan hal tak terduga, jika tak pandai mengendalikan diri. Gadis itu
menutup wajahnya. Istigfar-nya semakin jelas terdengar dibumbui helaan nafas
yang kencang. Ia terisak.
“Fa?”
Memahami wanita
itu orang bijak bilang seperti ketika menonton film asing yang tidak ada subtitle-nya.
Tidak paham. Hanya bisa menebak dari ekspresi dan gerak-geriknya. Dan kaum pria
terpaksa harus mencari cara untuk bisa mengerti, dan paham, tanpa menyinggung
perasaannya. Rendra membiarkan sang gadis puas dengan tangisannya.
“M..maaf…” gadis
itu tersedu
“Tak apa Fa, kamu
bisa menangis sepuasnya, jika itu bisa membuatmu lega”
“Aku mungkin bisa
menyembunyikan perasaan ini bertahun-tahun, tapi aku tidak bisa menahannya
terlalu lama. Dulu, ketika temanku bilang ada yang menyukaiku, aku merasa biasa
saja. Tapi, setelah aku lihat semua kebaikanmu terhadapku,
aku merasa ada sesuatu yang membuatku tertarik. Perhatianku kamu curi lewat
kebaikan-kebaikanmu. Aku yang dulu benar-benar buta bermain dengan cinta yang
benar-benar salah. Dengan sebuah hubungan yang seharusnya tidak pernah aku
jalani. Aku tidak paham dari dulu, bahwa sebenarnya aku tidak perlu mengemis
rasa suka dan rasa cinta dari seorang laki-laki manapun. Belum waktunya. Dan
ketika aku ditunjukkan ke jalan yang bercahaya, bertemu dengan seorang guru di
sebuah pesantren, aku mulai memperbaiki diri dan berhijrah. Dan ketika itu
pula, aku memendam setiap kali aku terpikat pada seorang adam. Ya. Itu kamu.”
Rendra
mendengarkan dengan takjim setiap kata yang terucap dari sang gadis. Ia seperti
tahu semuanya, seperti tak perlu dijelaskan lagi. Ia hanya bisa menatap kosong,
meresapi, mengangguk setiap kali Syifa menoleh saat bercerita.
“Saat kamu
menolongku yang sedang dimaki-maki oleh seorang laki-laki, saat kamu membantuku
saat aku dibentak oleh seorang laki-laki, saat kau menyelamatku saat menjelajah
di hutan, kau membantuku, mengobatiku, menuntunku. Saat kau memberikan aku
lilin saat aku ketakutan dalam gelap, saat kau membelaku ketika aku dibentak
oleh seorang laki-laki. Aku mengenang itu semua justru setelah jauh-jauh hari
setelah kejadian-kejadian itu. Aku baru menyadari itu, di saat kamu mungkin
sudah lupa bahwa kamu pernah menyukaiku”
“Fa…”
“Aku benar-benar
bodoh. Itu kan yang akan kauucapkan? Aku
memang bodoh, karena menyukai orang yang sama sekali tidak menyukaiku. Aku
benar-benar menghabiskan waktuku untuk seseorang yang sama sekali tidak pernah
memikirkanku.”
“Tolong jangan
terlalu cepat mengambil kesimpulan”
Syifa menoleh ke
arah Rendra. Matanya yang sembap bertemu dengan pandangan yang penuh
pengharapan. Pandangan yang tidak pernah berubah dari dulu. Cara pandang yang
berbeda, yang mengandung penuh isyarat. Syifa kembali menundukkan kepalanya.
Tiba-tiba saja Rendra menyimpan sebuah kotak kecil. Tanpa meminta ijin, Syifa
membuka kotak itu perlahan. Hanya sebuah kertas putih yang usang, seperti sudah
disimpan bertahun-tahun. Syifa menatap kertas putih itu, kemudian mendapati
sebuah amplop berisi surat yang membuat ia termangu.
Dari dulu aku ingin sekali belajar melukis
Setidaknya biar bisa melukis setangkai bunga yang indah
tapi kau tahu sendiri kapasitasku bukan di dunia melukis
Dari dulu aku ingin menjadi pujangga
setidaknya biar bisa merangkai kata sekedar untuk menyapa
tapi kau tahu kau lebih pandai merangkai kata melebihi seorang pujangga
aku tidak bisa melukis pun tidak bisa puitis
Makannya aku memberikan sebuah kertas kosong
Kau tahu kenapa?
Karena kamu terlalu indah untuk bisa kulukis dan kupuji..
Dan kertas ini kalau kau dapati menguning
itu karena kertas itu yang ingin kuberikan semenjak kita masih berseragam putih-abu
Sampai usiaku menuju senja, aku bahkan tidak berhasil mengumpulkan keberanian
hanya sekedar untuk bilang apa kabar, sedang dekat sama siapa, pacarnya siapa
aku terlalu takut
Mungkin ini adalah hal yang paling kusesali hingga detik ini
Maafkan aku
Aku berbohong bilang perasaan itu seperti cuaca, mudah berubah
Tapi perasaanku padamu seperti matahari yang selalu ingin kembali pada pagi
Setidaknya biar bisa melukis setangkai bunga yang indah
tapi kau tahu sendiri kapasitasku bukan di dunia melukis
Dari dulu aku ingin menjadi pujangga
setidaknya biar bisa merangkai kata sekedar untuk menyapa
tapi kau tahu kau lebih pandai merangkai kata melebihi seorang pujangga
aku tidak bisa melukis pun tidak bisa puitis
Makannya aku memberikan sebuah kertas kosong
Kau tahu kenapa?
Karena kamu terlalu indah untuk bisa kulukis dan kupuji..
Dan kertas ini kalau kau dapati menguning
itu karena kertas itu yang ingin kuberikan semenjak kita masih berseragam putih-abu
Sampai usiaku menuju senja, aku bahkan tidak berhasil mengumpulkan keberanian
hanya sekedar untuk bilang apa kabar, sedang dekat sama siapa, pacarnya siapa
aku terlalu takut
Mungkin ini adalah hal yang paling kusesali hingga detik ini
Maafkan aku
Aku berbohong bilang perasaan itu seperti cuaca, mudah berubah
Tapi perasaanku padamu seperti matahari yang selalu ingin kembali pada pagi
Tulisan di surat itu mulai penuh dengan bercak airmata. Entah apa
yang harus Syifa katakan. Pedih. Pedih andai bisa dikatakan. Keheningan saat
itu hanya dipenuhi dengan isak tangis. Sementara Rendra hanya meremas jemari.
Menyeka keringat dingin. Entah apa yang harus ia lakukan ketika gadis pujaannya
terisak di sampingnya. Rendra. Seorang pria yang selalu ingin menjaga
kehormatan perasaan. Dengan tidak memberikan harapan kepada gadisnya, tidak
ingin terburu-buru menyatakan perasaannya, tidak ingin bermain dengan perasaan
cinta semu sebelum ia sukses dan mampu membeli mahar. Semuanya sudah ia
sampaikan. Semuanya. Hanya dengan kata-kata indah amatiran itu, ia yakin
gadisnya akan paham seluruh cerita dalam kurun waktu 12 tahun ini.
“Kenapa Ndra… kenapa…??????????????????????” Syifa semakin terisak
“M..maafkan aku.. Syifa…”
“Kenapaaaaaaaa……………..”
“Setidaknya semuanya sudah jelas sekarang.. Aku minta maaf, ijinkan
aku menyatakannya sekarang. Tidak. Aku akan menyatakannya nanti, sembari
membawa keluargaku ke rumahmu, Syifa…”
Syifa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia terisak terus-menerus. Ia
tidak bisa mengendalikan nafas. Pedih, tapi tak bisa ia ungkapkan. Ia meremas
sebuah kertas tebal yang dilapisi plastik transparan. Meremas-remasnya dengan
penuh kebencian, penuh penyesalan. Ia meremas kertas itu. Sebuah surat.
Undangan pernikahan.
Tangisan ini, anggap saja nyanyian sendu.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar