Sabtu, 02 Juni 2018


Nyanyian Sendu
Karya Imajinasi
-Ulfa Tapani
Suasana masih beku dari pertama kali mereka bertatap wajah. Namun tak sampai sedetik, pandangan langsung melarikan diri, memilih untuk menatap kosong ke depan. Duduk berdampingan tidak mereka jadikan alasan untuk saling bertatap. Satu menunduk, satu termangu, masing-masing menganalisa, tidak dapat menerjemahkan perasaan yang tengah bergemuruh di antara mereka berdua. Ya, setelah sekian tahun tak berjumpa, tak saling berbagi kabar dan cerita, mereka kembali bertemu dengan romansa yang berbeda.
            “Apa kabar?” pertanyaan itu memecah keheningan.
            “Kabar baik. Bagaimana denganmu?”
            “Aku juga baik..”
            Hanya tercipta sepotong percakapan, sisanya kembali sibuk dengan kecanggungan masing-masing. Entah untuk alasan apa mereka menciptakan sebuah kebekuan dalam pertemuan, namun ini hanya segumpal perasaan asing yang tak pernah mereka ciptakan sebelumnya. Yang pria mulai tersinggung karena sebuah fakta. Ia seorang pria, masa’ iya harus jadi pendiam macam seorang wanita? Ia harus segera mencairkan suasana.
            “Lama tak bertemu, sibuk apa sekarang?” Sang pria menoleh kepada gadis yang konsisten menunduk.
            “Aku sekarang hanya menghabiskan waktu mengajar santri di pesantren, membagi ilmuku yang tak seberapa..”
            Sang pria menatap gadis berjilbab biru itu, setidaknya ia bisa mencuri pandang selama gadis itu tak mengangkat kepalanya.
            “Mmm…”
            “Kamu sendiri sibuk apa sekarang, Ndra?” akhirnya sang gadis mau merangkai percakapan, bahkan dengan menyebut nama panggilan sang pria.
            “Aku sekarang bekerja di kantor kelurahan Fa..” sang pria pun membalas menyebut nama panggilan sang gadis.
            Bukan.
            Ini bukan tentang sang pria dan sang gadis. Ini tentang Rendra dan Syifa.
***
            “Katanya, ada yang ingin kamu bicarakan Fa, apa itu?”
            “Menurutmu apa Ndra?”
            “Menurutku? Apa kamu pikir aku tahu jawabannya?”
            “Aku pikir begitu..”
            “Aku tidak tahu Fa….”
            ‘Selama ini kau tidak tahu? Atau pura-pura tidak tahu?”
            Sedikit terkejut, Rendra menoleh ke arah Syifa yang kini mulai berani menatapnya. Entah bagaimana, tapi kejanggalan itu mulai muncul. Gadis pendiam yang selama ini ia kenal tiba-tiba saja menatap dengan penuh antusias. Ia seperti memiliki berjuta peluru yang hendak ia tembakkan satu per satu. Dan peluru pertama telah ia tembakkan.
            “Aku..aku.. tidak tahu. Apa yang sedang kamu bicarakan Fa?”
            “Apa yang sedang aku bicarakan? Ah.. kamu benar, apa yang sedang aku bicarkan? Aku tidak tahu,,”
            “Fa, ada apa sebenarnya?”
            “Ada apa? Aku tidak tahu..”
            “Jangan pura-pura tidak tahu Fa..”
            “Harusnya kalimat itu yang aku lontarkan padamu” gadis itu tersenyum sinis.
            “Aku tidak bisa mengerti kalau kamu tidak mau menjelaskan Fa, tolong jangan beri aku teka-teki yang sulit”
            “Setidaknya kamu ingat, pertama kali kita bertemu dan tiba-tiba saja temanku yang juga temanmu mengatakan sesuatu. Atau kamu tidak ingat? Atau sama sekali tidak mau ingat?”
            “Fa..”
            “Apa selama  ini kamu tahu, atau sama sekali tidak tahu? Kalau aku menghabiskan banyak waktu memikirkanmu, menghabiskan seluruh waktu untuk bermimpi tentangmu, tentang angan yang tak pernah bisa aku capai. Apa kamu tidak tahu? Atau tidak mau tahu? Atau bahkan tidak pernah memikirkan hal itu sama sekali?”
            “Dulu kamu sudah menjadi milik seseorang Fa, kenapa harus aku paksakan perasaan yang dulu??”
            “Tapi aku telah mengakhirinya. Aku sadari semuanya. Tapi mengapa setelah kamu tahu, kamu basa-basi membahas tentang itu pun tidak, memberi tahu bagaimana perasaanmu pun tidak”
            “Kamu tidak pernah menanyakan hal itu Fa..”
            ‘Harus aku tanyakan?!!!!”
            Matanya mulai memerah. Rendra bisa melihat mata sang gadis yang berkaca-kaca penuh amarah. Gadis itu tidak tahu tentang hal yang diketahui oleh Rendra. Sama sekali tidak tahu. Rendra menghela nafas. Mencoba mengendalikan diri, berusaha menjelaskan yang terbaik.
            “Aku tidak ingin terlalu terburu-buru soal perasaan Fa.. kamu tahu, perasaan itu seperti cuaca, mudah sekali berubah. Hanya waktu yang bisa menjawab apakah perasaan itu semakin jelas terlihat atau malah semakin hambar.”
            “Waktu? Usiamu sekarang 28 kau masih berbicara tentang waktu? Hendak sampai kapan kamu menunggu hah?”
            “Apa yang sebenarnya kamu inginkan Fa? APA???????” Rendra setengah berteriak.
            Gadis itu terhenyak. Ia segera menghela nafas, mengusap wajah. Rendra bisa mendengarkan desahan istigfar yang diucapkannya. Emosi memang tidak bisa ditebak kapan akan tersulut dan kemudian berkobar-kobar. Jelasnya, perempuan sulit mengendalikan diri ketika emosinya tidak stabil. Perempuan bisa mengucapkan apa saja. Bahkan bisa melakukan hal tak terduga, jika tak pandai mengendalikan diri. Gadis itu menutup wajahnya. Istigfar-nya semakin jelas terdengar dibumbui helaan nafas yang kencang. Ia terisak.
            “Fa?”
            Memahami wanita itu orang bijak bilang seperti ketika menonton film asing yang tidak ada subtitle-nya. Tidak paham. Hanya bisa menebak dari ekspresi dan gerak-geriknya. Dan kaum pria terpaksa harus mencari cara untuk bisa mengerti, dan paham, tanpa menyinggung perasaannya. Rendra membiarkan sang gadis puas dengan tangisannya.
            “M..maaf…” gadis itu tersedu
            “Tak apa Fa, kamu bisa menangis sepuasnya, jika itu bisa membuatmu lega”
            “Aku mungkin bisa menyembunyikan perasaan ini bertahun-tahun, tapi aku tidak bisa menahannya terlalu lama. Dulu, ketika temanku bilang ada yang menyukaiku, aku merasa biasa saja. Tapi, setelah aku lihat semua kebaikanmu terhadapku, aku merasa ada sesuatu yang membuatku tertarik. Perhatianku kamu curi lewat kebaikan-kebaikanmu. Aku yang dulu benar-benar buta bermain dengan cinta yang benar-benar salah. Dengan sebuah hubungan yang seharusnya tidak pernah aku jalani. Aku tidak paham dari dulu, bahwa sebenarnya aku tidak perlu mengemis rasa suka dan rasa cinta dari seorang laki-laki manapun. Belum waktunya. Dan ketika aku ditunjukkan ke jalan yang bercahaya, bertemu dengan seorang guru di sebuah pesantren, aku mulai memperbaiki diri dan berhijrah. Dan ketika itu pula, aku memendam setiap kali aku terpikat pada seorang adam. Ya. Itu kamu.”
            Rendra mendengarkan dengan takjim setiap kata yang terucap dari sang gadis. Ia seperti tahu semuanya, seperti tak perlu dijelaskan lagi. Ia hanya bisa menatap kosong, meresapi, mengangguk setiap kali Syifa menoleh saat bercerita.
            “Saat kamu menolongku yang sedang dimaki-maki oleh seorang laki-laki, saat kamu membantuku saat aku dibentak oleh seorang laki-laki, saat kau menyelamatku saat menjelajah di hutan, kau membantuku, mengobatiku, menuntunku. Saat kau memberikan aku lilin saat aku ketakutan dalam gelap, saat kau membelaku ketika aku dibentak oleh seorang laki-laki. Aku mengenang itu semua justru setelah jauh-jauh hari setelah kejadian-kejadian itu. Aku baru menyadari itu, di saat kamu mungkin sudah lupa bahwa kamu pernah menyukaiku”
            “Fa…”
            “Aku benar-benar bodoh. Itu kan yang akan  kauucapkan? Aku memang bodoh, karena menyukai orang yang sama sekali tidak menyukaiku. Aku benar-benar menghabiskan waktuku untuk seseorang yang sama sekali tidak pernah memikirkanku.”
            “Tolong jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan”
            Syifa menoleh ke arah Rendra. Matanya yang sembap bertemu dengan pandangan yang penuh pengharapan. Pandangan yang tidak pernah berubah dari dulu. Cara pandang yang berbeda, yang mengandung penuh isyarat. Syifa kembali menundukkan kepalanya. Tiba-tiba saja Rendra menyimpan sebuah kotak kecil. Tanpa meminta ijin, Syifa membuka kotak itu perlahan. Hanya sebuah kertas putih yang usang, seperti sudah disimpan bertahun-tahun. Syifa menatap kertas putih itu, kemudian mendapati sebuah amplop berisi surat yang membuat ia termangu.
Dari dulu aku ingin sekali belajar melukis
Setidaknya biar bisa melukis setangkai bunga yang indah
tapi kau tahu sendiri kapasitasku bukan di dunia melukis
Dari dulu aku ingin menjadi pujangga
setidaknya biar bisa merangkai kata sekedar untuk menyapa
tapi kau tahu kau lebih pandai merangkai kata melebihi seorang pujangga
aku tidak bisa melukis pun tidak bisa puitis
Makannya aku memberikan sebuah kertas kosong
Kau tahu kenapa?
Karena kamu terlalu indah untuk bisa kulukis dan kupuji..
Dan kertas ini kalau kau dapati menguning
itu karena kertas itu yang ingin kuberikan semenjak kita masih berseragam putih-abu
Sampai usiaku menuju senja, aku bahkan tidak berhasil mengumpulkan keberanian
hanya sekedar untuk bilang apa kabar, sedang dekat sama siapa, pacarnya siapa
aku terlalu takut
Mungkin ini adalah hal yang paling kusesali hingga detik ini
Maafkan aku
Aku berbohong bilang perasaan itu seperti cuaca, mudah berubah
Tapi perasaanku padamu seperti matahari yang selalu ingin kembali pada pagi
Tulisan di surat itu mulai penuh dengan bercak airmata. Entah apa yang harus Syifa katakan. Pedih. Pedih andai bisa dikatakan. Keheningan saat itu hanya dipenuhi dengan isak tangis. Sementara Rendra hanya meremas jemari. Menyeka keringat dingin. Entah apa yang harus ia lakukan ketika gadis pujaannya terisak di sampingnya. Rendra. Seorang pria yang selalu ingin menjaga kehormatan perasaan. Dengan tidak memberikan harapan kepada gadisnya, tidak ingin terburu-buru menyatakan perasaannya, tidak ingin bermain dengan perasaan cinta semu sebelum ia sukses dan mampu membeli mahar. Semuanya sudah ia sampaikan. Semuanya. Hanya dengan kata-kata indah amatiran itu, ia yakin gadisnya akan paham seluruh cerita dalam kurun waktu 12 tahun ini.
“Kenapa Ndra… kenapa…??????????????????????” Syifa semakin terisak
“M..maafkan aku.. Syifa…”
“Kenapaaaaaaaa……………..”
“Setidaknya semuanya sudah jelas sekarang.. Aku minta maaf, ijinkan aku menyatakannya sekarang. Tidak. Aku akan menyatakannya nanti, sembari membawa keluargaku ke rumahmu, Syifa…”
Syifa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia terisak terus-menerus. Ia tidak bisa mengendalikan nafas. Pedih, tapi tak bisa ia ungkapkan. Ia meremas sebuah kertas tebal yang dilapisi plastik transparan. Meremas-remasnya dengan penuh kebencian, penuh penyesalan. Ia meremas kertas itu. Sebuah surat. Undangan pernikahan.
Tangisan ini, anggap saja nyanyian sendu.
***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar